17 January 2007
Urang Padang Baralek Gadang,
JIKA 2007 ini anda punya rencana untuk pulang kampuang --bagi yang merantau-- atau mau jalan ke Ranah Minang --buat yang hobi jalan-jalan--, reschedule kembali jadwal kunjungan ada. Itu jika anda berkeinginan melihat prosesi baralek gadang (pesta pernikahan) ala rang Minang di Kota Padang. Saat liburan panjang nanti, sekitar Juni-Juli 2007, keingintahuan anda soal pesta adat ini akan terjawab. Itu kalau tidak ada aral melintang dan Pemko Padang tidak kelupaan untuk menghelatnya.

Acara ini sendiri sebenarnya sudah dilaksanakan pada 19 Desember 2006 lalu dengan tajuk Urang Padang Baralek Gadang. Event yang baru pertama kali diadakan itu, tentu saja masih ada kekurangan di sana-sini. Kendati begitu, tetap saja acara serupa ini adalah hal yang menarik bagi orang yang belum pernah melihat dan punya ketertarikan dengan budaya lokal.


Pada acara Urang Padang Baralek Gadang lalu itu, diawali dengan acara babako (pergi ke keluarga pihak ayah) ke rumah --yang diperankan-- Sekdako Padang, Firdaus K. Di sana, 11 anak daro (penganten wanita) dan marapulai (penganten pria) meminta izin dan do'a restu.

Setelah mendapat nasehat dari bako, pasangan anak daro jo marapulai diarak ke rumah orangtua masing-masing diiringi musik talempong dan diarak secara beramai-ramai oleh bako, sedangkan anak pisang dari anak daro, mairik jawi (menarik sapi) pemberian bako. Setelah orangtuanya melempari bareh kunyik (beras dilumuri kunyit halus) sebagai tanda selamat datang dan datanglah kebaikan, bako mulai melangkah masuk dan meletakkan buah tangan yang telah dipersiapkan di atas seprah (kain putih panjang tempat meletakkan hidangan). Di sana telah dihidangkan makanan yang diletakkan tradisional yang khusus dibuat untuk hidangan pernikahan itu. Di antaranya terdapat rendang, gulai cubadak (nangka), gulai tocho dan makanan tradisional lainnya.

Setelah dari Babako, dilanjutkan acara bainai jo batagak gala (memasang inai bagi penganten wanita dan prosesi penyematan gelar adat bagi penganten pria) di rumah masing-masing pada pukul 20.00 WIB. Bainai di rumah orangtua anak daro (dalam acara ini diselenggarakan di kediaman Walikota Padang, Drs H Fauzi Bahar MSi) dan batagak gala di rumah orangtua laki-laki (kediaman Wawako, Drs H Yusman Kasim).

Malam bainai bagi anak daro, dilakukan pada saat seorang gadis akan memasuki kehidupan baru, dimana tanggung jawab orangtua terhadap anak perempuannya akan berpindah kepada suaminya.

Keesokan harinya, kegiatan akad nikah dilangsungkan di rumah anak daro. Namun sebelumnya marapulai dijemput (manjapuik marapulai) oleh pihak pengantin wanita, yang disertai dengan membawa sirih dalam carano serta pakaian nikahnya berupa jas lengkap. Dilanjutkan basandiang, yaitu prosesi peresmian perkawinan dengan acara resepsi. Sebelum anak daro dan marapulai bersanding, pihak keluarga menjemput marapulai dengan bareh kunyik (beras kunyit). Resepsi ini, berlangsung sehari penuh.

Di hari ketiga, rangkaian kegiatan Urang Padang Baralek Gadang ini diwarnai dengan kegiatan maantaan nasi (mengantar nasi) oleh pihak anak daro ke rumah orangtua marapulai di rumah Wawako. Prosesi maanta nasi, sebelumnya diawali dengan kegiatan makan bajamba di Palanta Kota Padang.

Di hadapan masing-masing pasangan pengantin yang berjumlah 11 pasang, terhampar masakan dan makanan khas Padang. Seperti rendang, ikan panggang, toco, pindang ikan, galamai, agar-agar, buah-buahan. Sebelum makan bersama, diawali pula dengan kegiatan berpantun oleh ninik mamak.

Usai bajawek pantun (berbalas pantun), walikota bersama para ninik mamak yang duduk di ruangan utama (panggung) memulai makan. Tidak hanya para ninik mamak, keluarga dari 11 pasang pengantin ini juga ikut makan bersama. Sementara tamu-tamu lain, lantaran tempat duduk bersila sudah penuh pada ruangan palanta, makan pada bagian luar.

Usai makan bersama, walikota melepas secara resmi iring-iringan pengantin bersama para sumandan untuk maanta nasi ke rumah wakil walikota sebagai rangkaian dari acara manjalang mintuo (melihat mertua). Iring-iringan pengantin bersama rombongan itu membawa sejumlah makanan. Sesampainya di rumah besan, rombongan disambut dengan kegiatan pantun berpantun, sampai dengan kegiatan penyerahan bawaan.

Meski kesannya simpel, rangkaian baralek gadang ini sebetulnya benar-benar melelahkan. Karena itu, akhir-akhir ini acara pernikahan di Kota Padang lebih cenderung merujuk kepada acara pernikahan modern yang tak kelewat bikin repot. Namun begitu, khazanah budaya serupa ini patut tetap dipertahankan Pemko, sehingga muncullah ide untuk menjadikannya sebagai calendar event pariwisata di Kota Padang. (***)

Labels:

 
posted by Maryulis Max at 11:24 PM | Permalink |


3 Comments:


  • At January 19, 2007 12:15 AM, Blogger Riz

    Onde mande ...informasinyo lengkap dan menarik .Yang kek gini nich , yang byk di skip org , maunya yg simpel ajh di gedung...padahal kalo di liat2 acara prosesinya ini byk sekali makna yg terkandung di dlm nya.

    Oh ya mau ikut member forum boleh gag? tapi mendaftar nya di sebelah mana yah?

     
  • At March 26, 2007 5:21 PM, Anonymous Loys DK

    Wuih... bagus nich klo indonesia pny bnyk blog budaya mcm gini.

    Knalin gw mhsw Fak. Ilmu peng. Budaya
    Kebetulan lagi nyari referensi buat makalah perkawinan Minangkabau.

    Thx atas infonya!

     
  • At March 12, 2010 6:07 AM, Anonymous Anonymous

    http://lumerkoz.edu perfect design thanks http://rc8forum.com/members/Buy-Zofran.aspx huaping http://riderx.info/members/Buy-Meridia-Online.aspx buena http://barborazychova.com/members/Buy-Plavix.aspx doubleday http://www.lovespeaks.org/profiles/blogs/buy-enalapril dealer http://www.comicspace.com/esomeprazole/ consultative